MAKALAH PLASMA NUTFAH LENGKAP
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Plasma nutfah merupakan koleksi
sumber daya genetic yang berupa keanekaragaman tumbuhan, hewan atau jasad renik
untuk tujuan yang luas. Sastrapraja (1992) menyatakan bahwa plasma nutfah
adalah substansi yang terdapat pada suatu kelompok makhluk hidup yang merupakan
sumber sifat keturunan yang dapat dirakit untuk menciptakan jenis unggul atau
kultivar yang baru. Plasma nutfah merupakan salah satu sumber daya alam yang
sangat penting karena tanpa plasma nutfah kita tidak dapat memuliakan tanaman,
membentuk kultivar atau ras baru karena itu plasma nutfah harus dikelola secara
tepat sehingga dari plasma tersebut dilakukan pemulian agar dapat mengembangkan
kultivar-kultivar unggul, selain itu koleksi plasma nutfah juga mempunyai
tujuan lain misalnya untuk pertukaran dengan Negara-negara lain.
1.2 Rumusan
Masalah
1. Apakah
pengertian plasma nutfah?
2.
Apa-apa saja
kah macam –macam plasma nutfah?
3.
Apa saja
keragaman dari plasma nutfah?
4.
Apakah
manfaat dari plasma nutfah?
5.
Bagaimanakah
pelestarian plasma nutfah?
1.3 Tujuan
Untuk mengetahui keanekaragaman dari plasma nutfah,
macam-macam plasma nutfah, dan usaha pelestariannya
1.4 Manfaat
Untuk dapat memahami cara pemanfaatan plasma nutfah
melalui biotekologi
Bab II
ISI
2.1 Pengertian Plasma Nutfah
Plasma nutfah adalah substansi pembawa sifat keturunan
yang dapat berupa organ utuh atau
bagian dari tumbuhan atau hewan serta mikroorganisme. Plasma
nutfah merupakan kekayaan alam yang sangat berharga bagi kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi untuk mendukung pembangunan nasional (http://wikipedia.com). Upaya pengelolaan dan pelestarian sumberdaya alam
hayati tidak dapat dilepaskan dari upaya pengelolaan dan pelestarian plasma
nutfah selaku pembawa sifat keturunan species keanekaragaman hayati tersebut (
Ja Posman Napitu, 2008). Plasma nutfah adalah substansi yang terdapat dalam
setiap makhluk hidup dan merupakan sumber sifat keturunan yang dapat
dimanfaatkan dan dikembangkan atau ditarik untuk menciptakan jenis unggul atau
kultivar baru. Termasuk dalam kelompok ini adalah semua kultivar unggul masa
kini atau masa lampau, kultivar primitif, jenis yang sudah dimanfaatkan tapi
belum dibudidayakan, jenis liar kerabat jenis budidaya dan jenis-jenis
budidaya.
2.2
Keragaman Plasma Nutfah
Di Indonesia tempat tumbuh plasma nutfah nabati
sebagian besar merupakan hutan tropik, sehingga kaya akan suku dari
tumbuh-tumbuhan yang khas tropik seperti Dipterocarpaceae, Sapotaceae,
Ebenaceae, Myristicaceae, Meliaceae, Zingiberaceae, Palmae, Moraceae,
Rhizopphoraceae, Padananceae dan lain-lain. Di daerah-daerah pegunungan terdapat
suku-suku yang mirip suku yang ada pada belahan bumi utara seperti Fagaceae,
Rosaceae, Lauraceae, Theaceae dan lain-lain. Di kawasan Indonesia juga dapat
tumbuh dengan subur jenis-jenis tumbuhan, epifit, bambu dan benalu, Rafflesia,
cendana, ficus dan lain-lain.
2.3 Macam
Plasma Nutfah
Macam plasma nutfah, selain berupa jenis tumbuhan liar
juga varietas primitif, varietas pembawa sumber sifat yang khusus, varietas
unggul yang sudah kuno dan varietas unggul masa kini.
1. Jenis liar atas dasar sejarah pembudidayaan dan
penggunaan potensinya dapat digolong-kan menjadi tiga kelompok yaitu:
- Jenis-jenis yang mungkin mempunyai nilai ekonomi,
tetapi sama sekali belum mem-budidayakan atau dipetik hasilnya.
- Jenis-jenis yang sudah dipetik dan dimanfaatkan hasilnya
tetapi belum atau tidak di-budidayakan.
- Jenis-jenis yang tidak dipetik hasilnya, akan tetapi
setelah mengalami atau melalui hi-bridisasi baru kemudian dibudidayakan dan
dimanfaatkan.
2. Varietas primitif
Semua jenis yang dibudidayakan secara langsung atau tidak berasal dari liar.
Varietas primitif adalah kultivar yang pembudidayaannya masih sederhana, belum
mengalami pemuliaan. Tumbuhannya yang termasuk kelompok ini biasanya di daerah
tumbuhnya mempunyai daya daptasi yang lebih baik, lebih tahan terhadap tekanan
lingkungan yang bersifat fisik maupun biologi. Hal ini dimungkinkan karena
sudah ada seleksi gen secara alamiah yang tahan terhadap dingin, panas, hama
ataupun penyakit di daerah tumbuh.
3. Varietas sumber sifat yang khusus
Kultivar yang mempunyai kelebihan dalam sifat-sifat tertentu, misalnya
kepekaannya terhadap pemupukan. Sinar ketahanan terhadap hama atau penyakit
tertentu atau sifat khusus yang lain seperti produksi.
4. Varietas unggul
Karena kemajuan di bidang pemuliaan, varietas unggul dapat diciptakan dengan
merakit sifat-sifat yang baik dari beberapa sumber plasma nutfah. Semakin besar
sifat keanekaragaman yang dimilikinya, akan semakin bebas pemulia untuk merakit
sifat-sifat yang baik. Dengan silih bergantinya zaman, varietas unggul
tidak dapat langgeng bertahan dipakai oleh petani. Memang pada saat tertentu
atau pada kondisi yang memadai varietas unggul mampu mengatasi atau melebihi
hasil varietas lain, akan tetapi pada kondisi yang lain untuk lingkungan yang
kurang menguntungkan misalnya munculnya kembali penyakit atau hama di daerah
penanamannya dapat memukul parah bahkan mengakibatkan fatal.
2.4
Pemanfaatan Plasma Nuftah Melalui Bioteknologi
Kekayaan plasma nutfah yang terdapat
di alam memiliki potensi untuk dimanfaatkan dalam industri pertanian. Oleh
sebab itu saat ini plasma nutfah harus banyak dikaji lebih dan dikoleksi dalam
rangka meningkatkan produksi pertanian seperti tanaman padi dan penyediaan
pangan. Hal ini dilakukan karena plasma nutfah merupakan sumber gen yang
berguna bagi perbaikan tanaman seperti gen untuk ketahanan terhadap penyakit,
serangga, gulma, dan juga gen untuk ketahanan terhadap cekaman lingkungan
abiotik yang kurang menguntungkan seperti kekeringan. Selain dari itu plasma
nutfah juga merupakan sumber gen yang dapat dimanfaatkan untuk peningkatan
kualitas hasil tanaman seperti kandungan nutrisi yang lebih baik.
Plasma nutfah adalah substansi pembawa sifat keturunan
yang dapat berupa organ utuh atau
bagian dari tumbuhan atau hewan serta mikroorganisme. Plasma
nutfah merupakan kekayaan alam yang sangat berharga bagi kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi untuk mendukung pembangunan nasional.
Di lain pihak, bioteknologi dapat
memanfaatkan semua gen dari organisme hidup tanpa ada batasan taksonomi. Hal
ini disebabkan karena transfer gen pada bioteknologi tidak dilakukan dengan melalui
penyerbukan silang. Bioteknologi memiliki peluang untuk mengakses kekayaan
plasma nutfah yang tidak dapat dilakukan melalui pemuliaan tanaman secara
konvensional. Sehingga bioteknologi diharapkan dapat digunakan sebagai
pelengkap pemuliaan tanaman konvensional.
Tanaman transgenik seperti padi
merupakan hasil pemanfaatan plasma nutfah melalui bioteknologi. Saat ini lebih
dari 70 varietas tanaman transgenik telah terdaftar dan dikomersialisasi secara
luas di dunia. Menurut data dari ISAAA, hampir 54% dari tanaman transgenik di
dunia merupakan kedelai transgenik, 28% merupakan jagung transgenik, 9% kapas
transgenik dan lainnya. Pemanfaatan plasma nutfah melalui bioteknologi dalam
industri pertanian Plasma nutfah merupakan bahan baku yang penting untuk pembangunan
industri pertanian. Penggunaan bioteknologi dibutuhkan untuk pemanfaatan plasma
nutfah dalam pertanian secara luas. Di bawah ini diuraikan beberapa contoh
pemanfaatan plasma nutfah untuk menanggulangi masalah-masalah pertanian.
2.5 Usaha
Pelestarian
Konservasi
in-situ
Plasma nutfah harus dikonversi
karena plasma nutfah sering mengalami erosi genetic yang mengakibatkan jumlah
plasma nutfah semakin menurun. Salah satu yang perlu diperhatikan dalam
pelestarian plasma nutfah adalah penyimpanan. Metode konservasi sumber daya
genetic secara luas terbagi menjadi dua yaitu secara in-situ dan ex-situ.
Konservasi in-situ yaitu konservasi
didalam kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam. Khususnya untuk
tumbuhan meskipun untuk populasi yang dibiakkan secara alami, konservasi
in-situ mungkin termasuk regenerasi buatan apabila penanaman dilakukan tanpa
seleksi yang disengaja dan pada area yang sama bila benih atau materi
reproduksi lainnya dikumpulkan secara acak.
Memanfaatkan
plasma nutfah dengan in-situ memungkinkan karakterisasi dan evaluasi tanaman
serta memudahkan program persilangan melalui persendian bunga atau serbuk sari
secara cepat. Selain itu proses produksi secara klonal dapat mempertahankan
kemasan genetic materi. Namun demikian, metode koleksi ini rawan punah, trutama
di Negara-negara berkembang yang disebabkan oleh berbagai factor seperti hama
penyakit (baik dilapangan maupun penyimpanan), iklim yang ektrim, kebakaran
lahan, konflik social, serta perubahan pemanfaatan lahan yang tadinya untuk
koleksi plasma nutfah.
Pelestarian plasma nutfah dapat
dilakukan dengan cara konvensional ataupun modern/bioteknologi. Kedua cara ini
membutuhkan tindakanyang cermat karena sudah barang tentu terdapat kelebihan
dan kekurangannya. Dhanutirto (1990) mengungkapkan bahwa kelebihan cara
konvensional adalah menggunakan lahan yang luas (aneka ragam plasma nutfah
dapat dilestarikan), sedang kekurangannya sulit memonitor dan kestabilan plasma
nutfah sulit dijamin. Lebih lanjut diungkapkan mengenai kelebihan cara modern
membutuhkan ruang yang sempit (karena dilakukan secara in vitro), mudah
memonitor, tenaga kerja tidak banyak, sedang kekurangannya adalah investasi
awal tinggi dan membutuhkan tenaga ahli yang berkualitas. Para ahli
mengungkapkan bahwa kedua cara ini tidak dapat dipisahkan, karena pada
pelaksanaanya akan saling menunjang. Sejauh ini metode konvensional sudah banyak berhasil dalam menyelamatkan
plasma nutfah yang tentunya sangat berguna bagi kelangsungan hidup mahluk hidup
di muka bumi ini.
Memelihara di tempat dimana tanaman
tumbuh merupakan tindakan yang sudah berabad-abad dilakukan.dengan cara ini
tanamna tidak akan strees terhadap keadaan lingkungan yang baru. Namun demikian
keadaan alami ini akan nlebih membiarkan tanaman tersebut danakan berkembang
secara sendirib tanpa terlalu banyak, atau bahkan tidak ada jamahan tangan
manusia sebagai pengelola. Sudah tentu akan seperti komuniti alami. Keuntungan
lain adalah ekosistem akan lebih terjaga.
Dengan adanya evolusi , kemajuan
perkembangan budaya manusia tanaman banyak dipindah tempatkan oleh manusia
dengan unsur kesengajaan . perlakuan ini
dikenal dengan istilah domestikasi. Tindakan ini ternyata membawa dampak
positif terhadap kemajuan pertanian, mereka belajar menanam dengan baik,
mencoba memperbanyak agar dapat memperoleh kesinambungan daerri keberadaan
tanamanyang dipelihara. Namun demikian kita masih tetap dapat memelihara secara
in situ, sesuai dengan tempat dimana tanaman itu tumbuh dan berkembang; karena
biasanya tanaman yang didomestikasikan berarti sudah menyesuaikan diri dengan
keadaan tempat yang baru.
Hal-hal yang diperhatikan dalam
melaksanaan pelestarian plasma nutfah adalah:
1. Pengkajian
teknologi pelestarian
2. Penyediaan
tenaga ahli
3. Pembangunan
sarana dan prasarana (Dhanutirto,1990).
Pemerintah dengan rekomendasi dari
panitia Nasional Bioteknologi telah menetapkan LIPI dalam hal ini sebagai pusat penelitian dan pembangunan
Bioteknologi menangani Pusat Plasma
Nutfah Nasional. Pemilihan kawasan tertentu dengan menggunakan kriteria tertentu
dengan pertimbangan habitat perwakilan biota serta penelaahan keterlaksanaan
yang baik. Lebih lanjut diungkapkan bahwa sistem pengeloaanya yang perlu
disempurnakan (Anonimous,1992).
Pemeliharaan intensif pada metode
konvensional in situ dapat dilakukan dengan mengikat sertakan daerah dan
masyarakat bersama sama mengelola suatu lahan milik Negara seperti halnya
hutan, pantai, prairi/padang rumput dalam hamparan luas dan lainnya dibatasi
oleh perundang-unangan. Pada pelaksanaannya akan memerlukan tenaga kerja dengan
jumlah yang banyak dengan struktur organisasi yang jelas.
Walaupun sebenarnya ada perundang -undangan
yang pasti, namun karna memelihara dalam hamparan luas yang tidak mungkin.
Kasus-kasus yang paling menyedihkan terjadi kehilangan beberapa plasma nutfah
akibat terbang ke negeri orang melalui tangan-tangan jahil manusia. Sudah
barang tentu hal ini sulit untuk di lacak siapa sebenarnya pelaku-pelaku yang
tidak bertanggung jawab tersebut.
Dalam
usaha melestarikan hutan-hutan yang kaya akan berbagai macam flora dan fauna
telah di programkan adanya beberapa daerah konservasil, penghijauan kembali
(reboisasi), pembatasan pembukaan lahan, dan pemeliharaan intensif untuk
kawasan-kawasan tertentu yaitu daerah hutan, tanam industri, taman-taman
nasional, marga satwa.
Konservasi
ex-situ
Konservasi
ex-situ merupakan metode konservasi yang mengkonservasi spesies diluar
distribusi alami dari populasi aslinya. Konservasi ini merupakan proses
melindungi spesies tumbuhan dan hewan langka dengan mengambilnya dari habitat
yang tidak aman atau terancam dan menempatkannya di bawah perlindungan manusia.
Tujuan konservasi ex-situ untuk mendapatkan kondisi penyimpanan yang ideal
sehingga penyimpana plasma nutfah dapat diprtahankan dengan menekan proses
metabolism pada tingkat yang sangat mini. Menurut Harington dalam Robert dan
King(1979) penyimpanan benih adalah salah satu metode preservasi genotif ang
termudah dan termurah.
Konservari
ex-situ, menghilangkan spesies dari konteks ekologi lainnya, melindunginya
dibawah kondisi semi terisolasi dimana evolusi alami dan proses adaptasi
dihentikan sementara atau diubah dengan mengintroduksi specimen pada habitat
yang tidak alami (buatan).
Pelestarian tanaman dengan cara memindah tempatkan
dari tempat asal tumbuhnya, dengan sendirinya tercermin ada unsur kesengajaan
untuk memelihara lebih intensif dengan cara mengurangi luas areal penanaman,
menggunakan tenaga kerja yang cukup, sarana yang memadai, atau bahkan
menggunakan bahan-bahan, alat-alat yang canggih seperti yang di peruntukkan
pada kultur teknik in vitro.
Beberapa
hal yang menjadi kendala dalam pelaksanaannya adalah di perlukan tenaga
terampil yang terdidik dan mempunyai rasa tanggung jawab penuh pada
pekerjaannya, kelengkapan bahan dan alat yang di butuhkan seringkali sangat
terbatas, menyimpan cara ini khususnya dengan kebun pembibitan tidak dapat
menjamin penyimpan jangka panjang. Dipihak lain keuntungan yang dapat di harapkan
tidak sedikit. Dengan menggunakan cara ini kita dapat lebih memantau
penyelamatan koleksi, baik secara budidaya maupun masalah vandalisme. Selain
itu dapat ditambah koleksi setiap saat bila mana memungkinkan, baik yang sudah
teridentifikasi maupun yang masih sedang dalam taraf eksplorisasi. Sering para
peneliti mengalami kesukaran bila di minta usulan penelitian yang berkaitan
dengan penggunaan varietas-varietas lanras untuk tanaman tertentu.
Secara
umum sitem pelestarian plasma nutfah secara ex-situ belum memadai. Sampai saat
sekarang sistem nasional pelestarian ex-situ yang ada dapat digambarkan sebagai
berikut:
Kebun raya Indonesia, bertanggung jawab pada jenis
botani, jadi diutamakan penempatan kelengkapan koleksi tanaman pribumi yang ada
di Indonesia. Karena keterbatasan lahan atau areal kebun maka masih diperlukan
adanya tambahan terhadapkoleksi botani yang ada dalam kebun raya itu yang dapat
ditanam diberbagai tipe tapak pelestairian lainnya. Keanekaragaman plasma
nutfah tidak menjadi mandat kebun raya sebab koleksi lebih di tunjukkan kepada
keragaman jenis botani.
Kebun plasma nutfah, seperti pada
PUSPITEK menekankan pada tumbuhan yang berpotensi ekonomi. Oleh karena itu
ditanam populasi jenis untuk menangkap keaneka ragaman plasma nutfah. Arboretum
merupakan koleksi botani yang khusus hanya di isi dengan koleksi jenis
pepohonan. Karena sifatnya dapat pula keanekaragaman pohon diwakili
didalamnnya, sehingga arboretum dapat berfungsi sebagi kebun pohon-pohon hutan.
·
Taman hutan
raya, adalah arboretum yang di beri fungsi tambahan sebagai tempat rekreasi.
Memiliki sifatnya itu tempat ini paling
tepat dikelola pihak departemen
kehutanan.
·
Kebun raja
(bukan kebun raya) adalah penerus budaya bangsa dalam membina paru-paru kota yang
diisi dengan beraneka tumbuhan
setempat.Karena itu kebun raja sangat cocok untuk ditangani oleh provinsi untuk
memungkinkan pemerintah daerah setempat dapat memanfaatkan plasma nutfah
daerahnya untuk mberbagai macam keperluan.
·
Kebun kampus
seyogyanya sebagai suatu kebun koleksi untuk keperluan pendidikan serta
laboratorium lapangan guna pendidikan perplasmanutfahan.
·
Kebun
koleksi adalah kebun yang ditangani
lembaga-lembaga penelitian yang umumnya berisi koleksi plasma nutfah jenis unggul
masa lalu serta perangkat plasma nutfah lainnya yang langsung dapat
dimanfaatkan dalam perakitan jenis unggul baru.
·
Kebun
binatang mencoba meliputi semua macam
dan tipe kebun tumbuhan diatas hanya membatasi diri pada binatang liar dan hewan peliharaan. Disamping itu
bukannya tidak mungkin menggabungkan kebun binatang dengan kebun raja, karena
pada mula sejarahnya keduanya menyatu.
Usaha pelestarian dilakukan dengan
konservasi secara ex-situ yaitu penanaman di tempat koleksi baru/di luar habitat
alaminya. Contoh tanaman yang dikumpulkan dari eksplorasi berupa biji, umbi,
setek dan organ tanaman lainnya. Materi berupa organ tanaman disterilisasi
menggunakan Rootone-F, selanjutnya ditanam di pot-pot pemeliharaan di rumah
kaca dan kebun pemeliharaan (visitor plot). Pemeliharaan tanaman dilaksanakan
dengan penyiraman, pemupukan baik pupuk Gandasil maupun pupuk NPK, pengendalian
hama dan penyakit, dan pemangkasan (Ronny Yuniar Galingging, 2006)
Menurut Suharto. (2004), sampai
dengan saat ini belum ada suatu kebijakan yang berskala nasional, terintegrasi
dan komprehensif tentang pengelolaan plasma nutfah. Pengelolaan plasma nutfah
terkotak-kotak sesuai dengan lembaga pengelolaanya. Sehingga kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi pada lembaga pengelola yang satu tidak berdampak pada
lembaga lainnya. Selain permasalahan diatas, dalam kebijakan yang adapun hanya
tertuang dalam beberapa pasal dalam Undang Undang dan Peraturan-Peraturan
pelaksanaan, yang merupakan kebijakan yang bersifat parsial dan (mungkin)
kontemporer.dan itu pun tidak secara inflisitmenegaskan makna akan plasma
nutfah. Bila dikaji kebijakan-kebijakan yang di keluarkan terakait lembaga
pegelola sumber daya alam hayati maka di sangat kurang tegas dinyatakan akan
upaya-upaya pengelolaan sumberdaya genetik (plasma nutfah)-nya.
Sektor pertanian yang lebih dahulu
maju dalam pengembangan rekayasa genetika, dapat dikatakan mulai memperhatikan
unsur plasma nutfah tersebut dalam kebijakannya itupun sifatnya sangat persial
dan mungkin temporal. Pengelolaan smberdaya alam hayati lebih di fokuskan pada
pemanfaatan keanekaragam jenis dan hanya pada jenis-jenis yang memiliki
nilai-nilai komersial. Kurangnya perhatian pengembangan jenis-jenis komesial
dan jenis lainnya tersebut, tentu disebabkan tidak adanya keberpihakan
kebijakan yang dikeluarkan kearah pengembangan genetic.
Para ahli pertanian dan ahli
konservasi biologi harus berterimakasih kepada para petani tradisional yang
mempunyai peranan penting dalam mengelola dan menjaga keanekaragaman sumber
plasma nutfah. Keanekaragama sumber plasma nutfah sangat penting dalam upaya
memperbaiki jenis-jenis tanaman
budidaya.
Dalam upaya menjaga kelestarian
jenis-jenis tanaman local yang memiliki keunggulan tertentu diperlukan upaya
konservasi ex-situ yang diperlukan para pemulia sebagai bahan sumber genetik
dalam upaya menemukan jenis yang mempunyai keunggulan. Walaupun demikian para
ilmuwan ahli genetika dan ahli pemulia masih tetap memerlukan usaha in-situ
jenis dan kultivar-kultivar lokal sebagai sumber genetic dalam rekayasa
genetika untuk memeperbaiki jenis tanaman budidaya.
Dalam rangka konservasi in-situ
keanekaragaman jenis tanaman budidaya, masyarakat lokal memiliki peran sangat
penting terutama dalam mengembangkan dan mengelola keanekaragaman plasma nutfah
jenis-jenis tanaman budidaya tersebut. Walaupun strategi konservasi ex-situ
mendominasi upaya kenservasi sumber ddaya genetik, tetapi pada decade terakhir
banyak ilmuwan pertanian khususnya para pemulia tanaman telah menggunakan pula
strategi konservasi in-situ kultivar-kultivar lokal atau jenis lokal yang
memiliki keunggulan spesifik sebagai sumber genetic pemuliaan tanaman dimasa
depan.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Aplikasi bioteknologi dalam industri pertanian
memungkinkan pemanfaatan gen-gen dari plasma nutfah yang sebelumnya tidak dapat
dimanfaatkan melalui pemuliaan tanaman secara konvensional. Gen-gen dari
tanaman yang tidak dapat di pindah silangkan telah disisipkan pada tanaman budi
daya dan menjadi sumber ketahanan untuk berbagai hama dan penyakit serta
cekaman lingkungan seperti kekeringan dan salinitas.
Plasma nutfah seharusnya dikaji lebih dan dikoleksi
dalam rangka meningkatkan produksi pertanian seperti tanaman padi dan
penyediaan pangan. Hal ini dilakukan karena plasma nutfah merupakan sumber gen
yang berguna bagi perbaikan tanaman seperti gen untuk ketahanan terhadap
penyakit, serangga, gulma, dan juga gen untuk ketahanan terhadap cekaman
lingkungan abiotik yang kurang menguntungkan seperti kekeringan. Selain dari
itu plasma nutfah juga merupakan sumber gen yang dapat dimanfaatkan untuk
peningkatan kualitas hasil tanaman seperti kandungan nutrisi yang lebih baik.
Daftar Pustaka
Ariyanti Dianita. 2012. Jurnal Pemanfaatan Plasma
Nuftah Melalui Bioteknologi Dalam Peningkatan Produksi Tanaman Padi. Malang : Universitas Muhammadiyah
Malang
Ja Posman
Napitu. 2008. Kajian Yuridis Plasma Nutfah Bagi Ketahanan Ekonomi Negara.
Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada
Y. Purwanto.
2000. Etnobotani Dan Konservasi Plasma Nutfah Hortikultura. Bogor : Kebun Raya
Bogor
http://
Bioteknologi Untuk Pelestarian Plasma Nutfah. ANEKAPLANTASIA.htm
Ronny Yuniar Galingging. 2006. Jurnal Pengkajian Dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Vol. 10, No. 1
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)
No comments :
Post a Comment