Tugas kelompok | PENGENDALIAN HAMA TERPADU ( PHT)

No comments
PEMBAHASAN
  • A   Pengertian PHT (Pengendalian Hama Terpadu)
    Banyak ahli memberikan batasan tentang PHT secara beragam, tetapi pada dasarnya mengandung prinsip yang sama.   Smith (1978) menyatakan PHT adalah pendekatan ekologi yang bersifat multidisplin untuk pengelolaan populasi hama dengan memanfaatkan beraneka ragam teknik pengendalian secara kompatibel dalam suatu kesatuan kordinasi pengelolaan.  Bottrell (1979) menekankan bahwa PHT adalah pemilihan secara cerdik dari penggunaan tindakan pengendalian hama, yang dapat menjamin hasil yang menguntungkan dilihat dari segi ekonomi, ekologi dan sosiologi. Sedangkan Kenmore (1989) memberikan definisi singkat PHT sebagai perpaduan yang terbaik. Yang dimaksud perpaduan terbaik ialah menggunakan berbagai metode pengendalian hama secara kompatibel. Sehingga melalui penerapan PHT, diharapkan kerusakan yang ditimbulkan hama tidak merugikan secara ekonomi, sekaligus menghindari kerugian bagi manusia, binatang, tanaman dan lingkungan.
    Dilihat dari segi operasional pengendalian hama dengan PHT dapat kita artikan sebagai pengendalian hama yang memadukan semua teknik atau metode pengendalian hama sedemikian rupa, sehingga populasi hama dapat tetap berada di bawah aras kerusakan.
    Pengendalian Hama Terpadu (PHT) adalah suatu cara pendekatan atau cara berpikir tentang pengendalian OPT yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efesiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan agroekosistem yang berwawasan lingkungan. PHT merupakan perpaduan beberapa teknik pengendalian hama yang dalam penerapannya harus memperhitungkan dampaknya baik secara ekologi, ekonomi maupun sosiologi sehingga secara keseluruhan diperoleh hasil yang terbaik.
    Ciri dan sifat dasar PHT yang membedakan dengan pengendalian konvensional adalah:
    a)      Tujuan utama PHT bukanlah pemusnahan, tetapi dikendalikan agar populasi hama tetap berada di bawah satu tingkatan aras yang dapat mengakibatkan kerusakan atau kerugian ekonomi. Strategi PHT bukanlah eradikasi hama tetapi pembatasan, sebab dalam keadaan tertentu ada kemungkinan bahwa adanya individu serangga atau binatang dapat berguna bagi manusia.
    b)      Dalam melaksanakan suatu pengendalian tidak mengenal satu cara pengendalian tertentu, seperti penggunaan pestisida saja tetapi semua teknik pengendalian dikombinasikan secara terpadu dalam suatu kesatuan pengelolaan.
    c)      Dalam mencapai sasaran utama PHT yaitu mempertahankan populasi hama di bawah kerusakan ekonomi, dengan produktivitas yang tinggi, maka perlu dipertimbangkan beberapa kendala yaitu:
    Ø  Kendala sosial ekonomi yang berarti bahwa pelaksanaan PHT harus dapat didukung oleh kelayakan sosial ekonomi masyarakat setempat.
    Ø  Kendala ekologi yang berarti bahwa dalam penerapan PHT secara ekologi dapat dipertanggung jawabkan dan tidak menimbulkan kegoncangan maupun kerusakan lingkungan.
    B.     Strategi Atau Taktik Pengendalian Hama
    Dalam hal ini perlu dipakai prinsip “pengelolaan hama” dari pada “pemberantasan hama”. Pengelolaan dan pengendalian hama umumnya haruslah dengan pendekatan terhadap hama itu dengan memperhatikan aspek ekologinya yang mungkin dapat menghasilkan kesimpulan bahwa “dengan satu cara pengendalian saja sudah dapat dicapai hasil yang lebih baik apabila lebih dari satu cara akan memberikan hasil yang jauh lebih baik lagi”.
    a.      Taktik PHT
    Taktik penerapan PHT suatu cara penerapan pengendalian OPT agar memenuhi asas ekologi yaitu tidak berdampak negatif pada agroekosistem dan azas ekonomi yaitu menguntungkan dan meningkatkan kesejahteraan petani.
    Adapun Taktik-taktik yang di gunakan dalam PHT (pengendalaian hama terpadu) tersebut yaitu:
    Ø  Pengendalian secara mekanik
    Pengendalian mekanik mencakup usaha untuk menghilangkan secara langsung hama serangga yang menyerang tanaman. Pengendalian mekanis ini biasanya bersifat manual.
    Mengambil hama yang sedang menyerang dengan tangan secara langsung atau dengan melibakan tenaga manusia telah banyak dilakukan oleh banyak negara pada permulaan abad ini. Cara pengendalian hama ini sampai sekarang masih banyak dilakukan di daerah-daerah yang upah tenaga kerjanya masih relatif murah.
    Contoh pengendalian mekanis yang dilakukan di Australia adalah mengambil ulat-ulat atau siput secara langsung yang sedang menyerang tanaman kubis. Pengendalian mekanis juga telah lama dilakukan di Indonesia terutama terhadap ulat pucuk daun tembakau oleh Helicoverpa sp. Untuk mengendalikan hama ini para petani pada pagi hari turun ke sawah untuk mengambil dan mengumpulkan ulat-ulat yang berada di pucuk tembakau. Ulat yang telah terkumpul itu kemudian dibakar atau dimusnahkan. Rogesan sering dipraktekkan oleh petani tebu (di Jawa) untuk mencari ulat penggerek pucuk tebu (Scirpophaga nivella) dengan mengiris sedikit demi sedikit pucuk tebu yang menunjukkan tanda serangan. Lelesan dilakukan oleh petani kopi untuk menyortir buah kopi dari lapangan yang terserang oleh bubuk kopi (Hypotheneemus hampei)

    Ø  Pengendalian secara fisik
    Pengendalian ini dilakukan dengan cara mengatur faktor-faktor fisik yang dapat mempengaruhi perkembangan hama, sehingga memberi kondisi tertentu yang menyebabkan hama sukar untuk hidup.
    Bahan-bahan simpanan sering diperlakukan dengan pemanasan (pengeringan) atau pendinginan. Cara ini dimaksudkan untuk membunuh atau menurunkan populasi hama sehingga dapat mencegah terjadinya peledakan hama. Bahan-bahan tersebut biasanya disimpan di tempat yang kedap udara sehingga serangga yang bearada di dalamnya dapat mati lemas oleh karena CO2 dan nitrogen.
    Pengolahan tanah dan pengairan dapat pula dimasukkan dalam pengendalian fisik; karena cara-cara tersebut dapat menyebabkan kondisi tertentu yang tidak cocok bagi pertumbuhan serangga. Untuk mengendalikan nematoda dapat dilakukan dengan penggenangan karena tanah yang mengandung banyak air akan mendesak oksigen keluar dari partikel tanah. Dengan hilangnya kandungan O2 dalam tanah, nematoda tidak dapat hidup lebih lama.

    Ø  Pengendalian secara hayati
    Pengendalian hayati adalah pengendalian hama dengan menggunakan jenis organisme hidup lain (predator, parasitoid, pathogen) yang mampu menyerang hama. Di suatu daerah hampir semua serangga dan tunggau mempunyai sejumlah musuh-musuh alami. Tersedianya banyak makanan dan tidak adanya agen-agen pengendali alami akan menyebabkan meningkatnya populasi hama. Populasi hama ini dapat pula meningkat akibat penggunaan bahan-bahan kimia yang tidak tepat sehingga dapat membunuh musuh-musuh alaminya. Sebagai contoh, meningkatnya populasi tunggau di Australia diakibatkan meningkatnya penggunaan DDT.
    Dua jenis organisme yang digunakan untuk pengendalian hayati terhadap serangga dan tunggau adalah parasit dan predator. Parasit selalu berukuran lebih kecil dari organisme yang dikendalikan oleh (host), dan parasit ini selama atau sebagian waktu dalam siklus hidupnya berada di dalam atau menempel pada inang. Umumnya parsit merusak tubuh inang selama peerkembangannya. Beberapa jenis parasit dari anggota tabuhan (Hymenoptera), meletakkan telurnya didalam tubuh inang dan setelah dewasa serangga ini akan meninggalkan inang dan mencari inang baru untuk meletakkan telurnya.
    Sebaliknya predator mempunyai ukuran tubuh yang lebih besar dari serangga yang dikendalikan (prey), dan sifat predator secara aktif mencari mangsanya, kemudian memakan atau mengisap cairan tubuh mangsa sampai mati. Beberapa kumbang Coccinella merupakan predator aphis atau jenis serangga lain yang baik pada fase larva maupun dewasanya. Contoh lain serangga yang bersifat sebagai predator adalah Chilocorus, serangga ini sekarang telah dimanfaatkan sebagai agensia pengendali hayati terhadap hama kutu perisai (Aspidiotus destructor) pada tanaman kelapa.

    Ø  Pengendalian Secara Kultur Teknik (Cultural Control)
    Pada prinsipnya yang termasuk dalam pengendalian secara kultur teknik adalah cara-cara pengendalian dengan memanfaatkan lingkungan untuk menekan perkembangan populasi hama. Termasuk dalam cara ini adalah:
    1.      Pengolahan Tanah
    Pengolahan tanah setelah panen menyebabkan larva-larva hama yang hidup di dalam tanah akan mati terkena alat-alat pengolahan. Di samping itun akibat lain dari pengolahan tanah ini akan menaikkan larva dan telur dari dalam tanah ke permukaan tanah. Dengan demikian larva-larva yang terdapat permukaan tanah akan memberikan kesempatan pada burung untuk memangsanya. Sedangkan telur-telurnya yang terdapat pada permukaan tanah terkean sinar matahari secara langsung sehinga keadaan T dan H berbeda dengan keadaan semula dan mengakibatkan telur tidak menetas.
    2.   Sanitasi
    Dengan membersihkan tempat-tempat yang kemungkinan dignakan oleh serangga untuk berbiak, berlindung, menyembunyikan diri atau berdiapause, maka perkembangan serangga hama dapat dicegah, walang sangit akan lebih cepat berbiak bila sanitasi lingkungannya kurang baik.
    3.   Pemupukan
    Penggunaan pupuk, menjadikan tanaman sehat dan lebih mudah mentolrir serangga hama. Pemupukan pada tanaman padi mengakibatkan tanaman lebih cepat membentuk anakan sehingga adanya serangga hama sundep dapat ditolerir oleh tumbuhnya anakan.
    Contoh, Uret pada ketela pohon menyerang akar, dengan pemupukan akar akan segera terbentuk kembali. Agromiza sp menyerang batang kedelai, dengan pemupukan yangh baik maka akan mempercepat pertumbuhasn tunas-tunas cabang.
    4.   Irigasi
    Pengelolaan air dapat menghambat perkembangan hama tertentu. Akan tetapi bila cara pengelolaan air kurang tepat dapat menyebabkan meningkatnya perkembangan populasi hama.
    Penggenangan pada sawah-sawah setelah panen selama kurang lebih 5 hari merupakan cara yang baik untuk memberentas larva maupun pupa penggerek batang padi. Penggenangan pada areal bekas pertanaman ketela pohon dapat membunuh uret.
    5.   Strip Farming
    Yaitu bercocok tanam menurut jalur-alur memanjang. Bercocok tanaman monokultur akan memudahkan tanaman terserang hama.
    Serangan dari hama-hama tertentu dapat diatasi dengan cara: Catch crop” yaitu bercocok tanam secara berselang seling antara tanaman yang berumur panjang dengan tanaman yang berumur pendek. Cara pengendalian seperti ini sering dilakukan bersama cara pengendalian yang lain. Sebagai contoh yaitu pemberantasan walang sangit.
    Walang sangit (Leptocorxa acuta) menyerang buah padi yang sedang masak susu, dengan catch crop diharapkan walang sangit akan menyerang tanaman yang berumur pendek, kemudian dilakukan penyemprotan sehingga tanaman yang berumur panjang dapat terhindar dari serangan.
    6.   Rotasi Tanaman
    Menanam tanaman yanmg berbeda-beda jenisnya dalam satu tahun dapat memutus /memotong siklus atau daun hidup hama terutama hama-hama yang sifatnya monofagus.
    Contoh: Hama Sundep. Hama ini menyukaitanaman padi, maka dengan menanam tanaman palawija, setelah padi maka serangan hama ini akan berkurang.
    7.   Pengaturan waktu tanam.
    Penggeseran waktu tanam dapat mengurangi serangan hama-hama tertentu.
    Sebagai contoh hama sundep. Hama sundep pada musim kemarau berdaiapause dalam tanah kemudian menjadi kupu dan bertelur. Kupu bertelur setelah penerbangan pertama dan biasanya meletakkan telurnya pada tanaman pembibitan yang berumur dua minggu. Penggeseran waktu tanam menyebabkan kupu tidak dapat bertelur pada waktunya (pada saat akan bertelur tidak terdapat tanaman yang berumur dua minggu).

    Ø  Pengendalian Dengan Tanaman Tahan Hama
    Menurut Painter yang dimaksud dengan tanaman tahan hama adalah tanaman yang mempunyai turunan yang kualitas atau sifatnya menyebabkan tanaman mampu menyembuhkan diri terhadap kerusakan yang diakibatkan oleh serangan hama.
    Keuntungan penggunaan varitas /tanaman tahan antara lain:
    ü  Efektif murah dan tidak berhaya terhadap lingkungan
    Kelemahannya:
    ü  Biaya untuk memperoleh tanaman ini mahal
    ü  Ditanam dalam jangka waktu panjang, sifat ketahanannya patah.
    Sifat-sifat ketahanan datangnya dari sifat morfologi, biokmia, biofisik atau perilaku dari hama. Untuk memperoleh tanaman tahan hama bukan merupakan suatu hal yang mudah dan cepat, dibutuhkan pengetahuan yang luas mengenai morfologi, fisiologi, genetika tanaman, perilaku serangga dan pengetahuan lainnya. Oleh karena banyak faktor probabiltas yang berpengaruh terhadap program pemuliaan, maka untuk mendapatkan varitas baru yang dijamin kelanggengan sifatnya, diperlukan waktu yang cukup lama 6-10 tahun.

    Ø  Pengendalian Secara Kimiawi
    pestisida adalah bahan kimia yang digunakan untuk mengendalikan perkembangan/ pertumbuhan dari hama, penyakit dan gulma. Pestisida secara umum digolongkan kepada jenis organisme yang akan dikendalikan populasinya. Insektisida, herbisida, fungisida dan nematisida digunakan untuk mengendalikan hama, gulma, jamur tanaman yang patogen dan nematoda. Jenis pestisida yang lain digunakan untuk mengendalikan tikus dan siput (Alexander, 1977).
    C.    Sekolah Lapang PHT
    Kebijakan pemerintah untuk menerapkan PHT di tingkat petani dalam setiap program perlindungan tanaman di Indonesia dasar hukumnya tertera pada GBHN II dan GBHN IV serta Inpres No. 3 Tahun 1986 yang kemudian dipertegas dalam Undang Undang No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman. Namun karena cara berpikir dan metode pengendalian konvensional sudah lama dan kuat mengakar di masyarakat tani, masyarakat umum, dan para penentu serta pelaksana kebijakan lapangan maka proses pengalihan harus dilakukan secara bertahap melalui program pelatihan dan penyuluhan yang intensif.
    Pemasyarakatan PHT telah dirintis sejak tahun 1987 melalui Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT), dan hingga saat ini banyak sekali kelompok-kelompok tani yang telah mengikuti SLPHT, namun demikian kenyataanya masih ada para petani SLPHT yang kembali pada pola pengendalian OPT dengan menggunakan insektisida kimia sintetik. Langkah pengembangan yang perlu dikerjakan dalam PHT adalah :
    a)      Mengenal status hama yang dikelola, Pengenalannya meliputi perilaku hama, dinamika perkembangan populasi, tingkat kesukaan makanan, dan tingkat kerusakan yang diakibatkannya. Dalam suatu agroekosistem, kelompok hama dikategorikan atas hama utama, hama minor, hama potensil, hama migran, dan bukan hama.
    b)      Mempelajari komponen saling ketergantungan dalam ekosistem. Salah satu komponen ekosistem yang perlu ditelaah dan dipelajari adalah yang mempengaruhi dinamika perkembangan populasi hama-hama utama. Contohnya adalah menginventarisir musuh-musuh alami, sekaligus mengetahui potensi musuh alami sebagai pengendali alami. Interaksi berbagai komponen biotik dan abiotik, dinamika populasi hama dan musuh alami, studi fenologi tanaman dan hama, studi sebaran hama merupakan komponen yang sangat diperlukan dalam menetapkan strategi pengendalian hama yang tepat.
    c)      Penetapan dan pengembangan Ambang Ekonomi. Ambang ekonomi atau ambang pengendalian merupakan ketetapan tentang pengambilan keputusan, kapan harus dilaksanakan penggunaan pestisida sebagi alternatif terakhir pengendalian. Untuk menetapkan ambang ekonomi dibutuhkan banyak informasi data biologi, ekologi serta ekonomi. Penetapan kerusakan / kerugian produksi dan hubungannya dengan populasi hama, analisis biaya dan manfaat penggendalian merupakan bagian yang penting dalam penetapkan ambang ekonomi.
    d)      Pengembangan sistem pengamatan dan monitoring hama. Pengamatan atau monitoring hama secara rutin dan terorganisasi dengan baik diperlukan untuk mengetahui kepadatan populasi hama pada suatu waktu dan tempat. Metode pengambilan sampel di lapang dilakukan secara benar agar data yang diperoleh dapat dipercaya secara statistik. Disamping itu jaringan dan organisasi monitoring juga perlu dikembangkan agar dapat menjamin ketepatan dan kecepatan arus informasi dari lapangan ke pihak pengambil keputusan pengendalian hama.
    e)      Pengembangan model diskriptif dan peramalan hama. Pengetahuan akan gejolak populasi hama dan hubungannya dengan komponen-komponen ekosistem mendorong perlu dikembangkannya model kuantitatif yang dinamis. Dimana model tersebut menggambarkan gejolak populasi dan kerusakan yang ditimbulkan pada waktu yang akan datang. Sehingga, dinamika populasi hama dapat diperkirakan sekaligus dapat memberikan pertimbangan bagaimana penanganan pengendalian agar tidak sampai terjadi ledakan populasi yang merugikan secara ekonomi.
    f)       Pengembangan strategi pengelolaan hama. Strategi dasar PHT adalah menggunakan taktik pengendalian ganda dalam suatu kesatuan sistem yang terkoordinasi. Strategi PHT mengusahakan agar populasi atau kerusakan yang ditimbulkan hama tetap berada dibawah ambang ekonomi. Srategi pengelolaan hama berdasarkan PHT, menempatkan pestisida sebagai alternatif terakhir.
    g)      Penyuluhan kepada petani agar menerima dan menerapkan PHT. Petani sebagai pelaksana utama pengendalaian hama, perlu menyadari dan mengerti tentang cara PHT dan penerapannya di lapangan.
    h)      Pengembangan organisasi PHT. Sistem PHT mengharuskan adanya suatu organisasi yang efisien dan efektif, yang dapat bekerja secara cepat dan tepat dalam menanggapi setiap perubahan yang terjadi pada agroekosistem. Organisasi PHT tersusun oleh komponen monitoring, pengambil keputusan, program tindakan, dan penyuluhan pada petani. Organisasi tersebut merupakan suatu organisasi yang mampu menyelesaikan permasalahan hama secara mandiri.
     D.    Prinsip Pengendalian Hama Terpadu
    Pengendalian hama terpadu bukan hanya sebuah pesan ataupun paket kegiatan, namun lebih dalam lagi PHT adalah merupakan sebuah cara untuk mengelola pertumbuhan tanaman sehingga dapat memberikan keuntungan yang semaksimal mungkin.
    Ada 4 prinsip manejemen yang mendasari PHT yang bersifat luwes, dapat dimana saja disesuaikan dengan daerah dan lahan setempat. Keempat prinsip tersebut adalah:
    1.      Budidaya Tanaman Sehat
    Tanaman yang sehat mempunyai ketahanan ekologi yang tinggi terhadap gangguan hama.
    a.       Pemilihan bibit yang sehat dan varitas tahan hama, yang cocok dengan kondisi setempat.
    b.      Pengairan cukup dan pemupukan yang berimbang.
    c.       Penyiangan gulma secara teratur. 
    2.      Melestarikan Musuh Alami
    Musuh alami (predator, parasitoid, dan patogen serangga) merupakan faktor penting pengendali hama yang perlu dilestarikan dan dikelola agar mampu berperan secara maksimum dalam pengaturan populasi hama di lapangan.
    a.       Temukan, kenali dan amati musuh-musuh alami (tanaman inang) di lahan sawah.
    b.      Peliharalah keseimbangan lingkungan lahan sawah agar populasi musuh alami dapat berkembang.  Jangan gunakan pestisida yang membunuh musuh alami.

    3.      Pengamatan Mingguan
    Pengamatan atau pemantauan ekosistem pertanaman yang intensif secara rutin oleh petani merupakan dasar analisis ekosistem untuk pengambilan keputusan dan melakukan tindakan yang diperlukan.
    4.      Petani Menjadi Ahli PHT
    Petani bertanggung jawab terhadap lahan dan manejemen sendiri. Petani sebagai pengambil keputusan dan keterampilan dalam menganalisis ekosistem serta mampu menetapkan keputusan pengendalian hama secara tepat sesuai dengan konsep PHT.
      
    DAFTAR PUSTAKA
    Bottrel, D.G. 1979. Integrated Pest Management. Council of Environ. Quality. Washington D.C.
    Kenmore, P.E. 1987. IPM Means the Best Mix. Rice IPM Newsletter. VII (7). IRRI. Manila. Philippines.
    Oka, Ida Nyoman. 1995. Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
    Smith, R.F.1978. Distory and Complexity of Integrated Pest Management. In: Pest Control Strategis. S.H. Smith and D. Pimentel (Ed.). Acad. Press. New York.
    Smith, R.F and J.L. Apple. 1978. Principles of Integrated Pest Control. IRRI Mimeograph.
    Untung, K. 1984. Pengantar Analisis Ekonomi Pengendalian Hama Terpadu. Andi Offset. Yogyakarta.
    Untung, K. 1993. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
    Anonim. 2010. Konsep Pengendalian Hama Terpadu. Online. http://sobatbaru.blogspot.com/2010/08/konsep-pengendalian-hama-terpadu-pht.html. Diakses 22 Oktober 2012.
    Chairudin. 2011. Langkah Operasional Pengendalian Penyakit tanaman. Online. http://abimuja.blogspot.com/2011/10/normal-0-false-false-false.html. Diakses 22 Oktober 2012.
    Lissa. 2012. Pengendalian HAMA dan PENYAKIT secara TERPADU (PHT). http://lissa-blogku.blogspot.com/2012/02/pengendalian-hama-terpadu-pht.html. Diakses 22 Oktober 2012.
    Marmaini. 2008. Pengendian Hama Terpadu. Palembang FMIPA. Universitas PGRI Palembang.

No comments :

Post a Comment